Sertifikasi Guru Perlu Kebijakan Lanjutan


PEMERINTAH hampir setahun melaksanakan sertifikasi guru. Program ini bisa bermakna positif, tetapi juga bisa punya arti negatif.

Agar sertifikasi ini memberikan dampak signifikan pada peningkatan kualitas pendidikan, perlu kebijakan lanjutan dari pemerintah. Kebijakan lanjutan ini, setidaknya dititikberatkan pada dua hal. Pertama, menyangkut pemerataan pendidikan. Kedua, berkaitan dengan peningkatan kualitas output atau para guru.

Pemerataan menjadi hal penting dalam sertifikasi guru karena melalui program ini bisa diketahui di mana terjadi penumpukan guru dan di mana terjadi kekurangan guru. Isu pemerataan masih perlu perhatian karena masih adanya ketimpangan kualitas pendidikan di Jawa dengan di luar Jawa. Pemerataan kualitas pendidikan akan sulit dicapai tanpa adanya pemerataan penyebaran para guru yang berkualitas.

Di luar pemerataan,melalui sertifikasi, harus tampak adanya peningkatan output alias kualitas guru. Untuk itu, sertifikasi seyogianya berisi indikator apa saja dan bagaimana cara mengukurnya sebelum menetapkan standar kompetensi guru yang baik. Sertifikasi akan banyak dipertanyakan jika tidak memuat hal itu di dalamnya. Dengan adanya peningkatan kualitas guru, peningkatan kualitas pendidikan lebih mudah dicapai.

Kebijakan lanjutan atas sertifikasi guru ini perlu agar program ini tidak sekadar menjadi instrumen. Sebuah program itu menjadi instrumen jika hanya bertujuan praktis semata. Contohnya, sertifikasi ini hanya dilihat sebagai sarana untuk mendapatkan insentif tambahan bagi guru. Pola pikir seperti ini akan berbahaya karena selain terlalu miopik (sempit), program ini pada akhirnya hanya akan jadi lahan tambahan bagi birokrasi.

Dengan kebijakan lanjutan, sertifikasi guru akan dilihat sebagai sasaran antara. Tujuan utamanya adalah peningkatan kualitas pendidikan. Dengan demikian, para guru tidak hanya terfokus soal sertifikasi, tetapi juga selalu diingatkan tentang tujuan utama dan tugas mulia yang ada dalam peran mereka sebagai pendidik. Selain perlu kebijakan lanjutan, program sertifikasi ini juga perlu dicermati secara sungguh-sungguh.

Sertifikasi ini harus punya dasar studi yang kuat. Seperti apakah sertifikasi ini dimulai dengan penelitian yang mendalam soal kualitas guru. Patut dilihat pula, apa yang menyebabkan kualitas guru itu rendah. Apakah karena penguasaan atas materi dan metode pengajaran yang kurang baik atau karena hal lain, pendapatan misalnya.

Tanpa dasar studi yang kuat, sertifikasi guru ini hanya akan jadi program yang di awang-awang, spekulatif, dan akan mudah digoyahkan. Program sertifikasi sebenarnya sudah dilakukan sejak zaman Hindia Belanda.

Waktu itu program sertifikasi tidak hanya bertujuan untuk menetapkan standar guru, tetapi juga untuk menjaga agar pendidikan tidak digunakan sebagai sarana untuk pemberontakan. Karena guru-guru yang tidak tersertifikasi punya kecenderungan untuk membuat sekolahsekolah yang disebut pemerintah Hindia Belanda sebagai sekolah-sekolah liar. Sekolah yang menyemaikan benih nasionalisme dan pemberontakan pada pemerintah Hindia Belanda.

Dalam kacamata itu pula sebenarnya sertifikasi atas guru dilakukan oleh pemerintah Indonesia sekarang. Sertifikasi itu untuk memastikan adanya kontrol pemerintah atas dunia pendidikan. Dengan kontrol ini, maka pendidikan diharapkan bisa jadi penopang utama kemapanan sebuah pemerintahan. Harus diakui, guru yang punya sertifikat belum tentu guru yang berkualitas.

Banyak sekali guru meski berasal dari tingkat pendidikan yang relatif rendah adalah seorang guru yang berkualitas. Mengapa? Karena mereka belajar, terus mengembangkan diri, dan kemampuan selama melakoni perannya sebagai guru. Dalam hal ini, untuk menjadi guru yang berkualitas, tidak semata-mata hanya bergantung pada penguasaan atas materi atau metode mengajar.

Semata-mata pada aspek kognitif. Untuk menjadi guru yang berkualitas, aspek-aspek nonkognitif juga harus diperhatikan. Hal seperti kepribadian, integritas, dan komitmen kemudian menjadi penting dalam menjalani peran sebagai guru. Sebab, guru bukan hanya sebuah profesi.

Guru adalah bapak bangsa di mana mereka punya peran untuk mengajar anak-anak bangsa menjadi anak-anak yang cerdas dan punya karakter kuat dan bagus. Pendidikan yang mampu menciptakan manusia Indonesia seutuhnya. Tanpa adanya teladan kepribadian dari guru, hal itu akan sulit sekali untuk dicapai.(*)

Oleh:
Makmuri Sukarno
Pengamat Pendidikan LIPI

Dalam: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/pendidikan/sertifikasi-guru-perlu-kebijakan-lanjutan-2.html

Tentang Lukman

orang yang benci, dan dengki padamu akan menuduhmu melakukan kesalahan, bukan kamu melakukan kesalahan, tapi kedengkian orang itu yang menjadikan apa saja salah di matanya. sebab keburukan hatinya itu melahirkan keburukan. sepiteng/ penampung tinja itu selalu mengeluarkan bau busuk, sekalipun kamu berdiri di sampingnya dalam pakaian baru dan minyak wangi mahal, penampung tinja itu tak akan mengomentari dengan bau wangi, tetap saja dia berkomentar dengan bau busuk -mahkota ruhani-
Pos ini dipublikasikan di Berita, DIKNAS, Pendidikan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s