Sertifikasi hanya dilakukan PTN


SWASTA: Seorang dosen mengajar di sebuah perguruan tinggi swasta (PTS) di Jakarta. PTS belum dipercaya untuk melakukan sertifikasi guru dan dosen karena sumber daya manusia dan fasilitas PTS dinilai masih kalah dari perguruan tinggi negeri (PTN).

TERDAPAT 31 perguruan tinggi negeri yang ditunjuk sebagai lembaga sertifikasi guru dan dosen.Perguruan tinggi swasta hanya dilibatkan sebagai mitra.

Dirjen Peningkatan Mutu Pendidikan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Baedhowi menjelaskan,perguruan tinggi negeri (PTN) ditetapkan sebagai lembaga sertifikasi disebut Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK). PTN dipilih karena dinilai lebih bermutu dari PTS.

“Mereka (perguruan tinggi swasta) itu hanya bersifat mitra, membantu.Peran utama tetap perguruan tinggi negeri. Hal itu karena umumnya mereka punya SDM dan fasilitas yang lebih baik dari swasta. Yang paling utama, perguruan tinggi itu harus terakreditasi,” sebutnya. PTN yang berhak melakukan sertifikasi adalah PTN yang telah ditunjuk oleh pemerintah.

Berdasarkan Permindiknas No057/O/2007 ada 31 perguruan tinggi negeri yang ditetapkan sebagai lembaga sertifikasi guru.Masingmasing perguruan tinggi ini akan membawahi satu rayon yang terdiri atas beberapa kabupaten. Berdasarkan Permendiknas itu,jika di perguruan tinggi yang ditunjuk dalam satu rayon tidak memiliki bidang studi yang akan memberikan sertifikasi, mereka bisa bekerja sama dengan perguruan tinggi di rayon yang lain yang memiliki bidang studi yang disertifikasi itu.

Atau, mereka bisa bekerja sama dengan PTS swasta. Untuk menjaga kualitas atau mutu sertifikasi, Baedhowi mengatakan, para asesor (pihak yang melakukan sertifikasi), minimal adalah S-1.Selain itu,asesor berjumlah dua orang dan akan menguji silang dokumen-dokumen yang diserahkan guru. “Ini biar lebih objektif dan transparan,” kata Baedhowi.

Sementara itu, pelaksanaan sertifikasi dosen dilakukan oleh Perguruan Tinggi Penyelenggara Sertifikasi Dosen (PTP Serdos).Hal ini berdasarkan pada Permendiknas Nomor19 Tahun2008tertanggal6 Juni 2008.PTP Serdos ini bertugas menyelenggarakan sertifikasi dosen dengan jabatan akademikAsistenAhli sampai dengan Lektor Kepala.

Agar sesuai kualifikasi, perguruan tinggi yang ditunjuk menjadi PTP Serdos harus memenuhi kriteria yang diajukan, yaitu PTP Serdos memiliki program studi yang terakreditasi sekurang-kurangnya 40% peringkat B ke atas dan mempunyai asesor pada rumpun ilmu tertentu minimal berjumlah dua orang.

Kemudian secara berturut- turut selama empat semester terakhir melaporkan kegiatan akademiknya.“PTP Serdos pun diwajibkan mengajukan proposal dengan menyebutkan rumpun ilmu yang relevan,” ujar Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dr Bedjo Sujanto. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Fasli Jalal menyebutkan tiga kategori PTP Serdos,yaitu PTP Serdos Pembina yang bertugas selain melaksanakan sertifikasi dosen,juga bertanggung jawab melakukan pengawasan dan supervisi terhadap PTP Serdos Binaan.

Perguruan tinggi yang ditunjuk menjadi PTP Serdos Pembina ini, di antaranya Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Kemudian ada PTP Serdos Mandiri yang melaksanakan sertifikasi dosen secara mandiri.

PTP Serdos ini hanya melakukan uji sertifikasi di lingkungan internal tanpa perlu mendapat pengawasan dari PTP Serdos Pembina. UNJ,Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) adalah sebagian dari universitas yang mendapat amanat sebagai PTP Serdos Mandiri ini. Adapun PTP Serdos Binaan dalam melaksanakan sertifikasi dosen diawasi dan disupervisi oleh PTP Serdos Binaan.

Universitas yang menjadi PTP Serdos Binaan ini adalah Universitas Bengkulu (Unib), Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan Universitas Tanjungpura (Untan). Dari sekitar 3.000 perguruan tinggi (PT) yang ada di Indonesia, ditetapkan ada 16 PT sebagai PTP Serdos Pembina, 17 PT sebagai PTP Serdos Mandiri, dan 29 PT sebagai PTP Serdos Binaan.

Penjaminan mutu terhadap proses sertifikasi dosen oleh PTP-Serdos dilakukan secara internal oleh masingmasing PTP-Serdos dan secara eksternal oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Penjaminan mutu dijalankan dengan melakukan monitoringdan evaluasi.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi sejauh mana kesesuaian pelaksanaan proses sertifikasi dosen dengan ketentuan yang telah ditetapkan dan kendala yang dihadapi.“Serta sejauh mana PTP-Serdos mengantisipasi penyelenggaraan program- program untuk penjaminan mutu pascasertifikasi,” ungkap Fasli. Lebih lanjut Fasli menuturkan, kegiatan monitoring dan evaluasi internal ini dilakukan oleh pimpinan perguruan tinggi atau tim monitoring dan evaluasi perguruan tinggi yang ditugaskan oleh pimpinan PTP-Serdos.

Dua bentuk kegiatan ini merupakan cara yang cukup efektif guna menghindari sertifikasi hanya menjadi sekadar formalitas belaka dan meminimalisasi kemungkinan penyimpangan yang akan terjadi. Kegiatan monitoring dan evaluasi ini dijalankan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi melalui Unit Penjaminan Mutu (UPM) yang bersifat sementara.

Kemudian berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi terhadap PTPSerdos, UPM memberikan rekomendasi kepada Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi tentang status PTP-Serdos. Rekomendasi dapat berbentuk penugasan kembali untuk terus beroperasi, perlu pembinaan ataupun dicabut penugasannya.

“Selain unit Penjaminan Mutu yang ada di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, jugaadaunitPenjaminanMutu internal perguruan tinggi,”beber Bedjo yang juga menjabat sebagai penanggung jawab tim penyusun sertifikasi dosen ini. Unit ini, Bedjo menyebutkan, melakukan monitoring dan evaluasi terhadap lembaga sertifikasi di perguruan tinggi yang bersangkutan.

Kinerja Penjaminan Mutu internal ini juga dimonitor dan dievaluasi oleh unit Penjaminan Mutu Dikti. (sri noviarni/helmi firdaus)

Tentang Lukman

orang yang benci, dan dengki padamu akan menuduhmu melakukan kesalahan, bukan kamu melakukan kesalahan, tapi kedengkian orang itu yang menjadikan apa saja salah di matanya. sebab keburukan hatinya itu melahirkan keburukan. sepiteng/ penampung tinja itu selalu mengeluarkan bau busuk, sekalipun kamu berdiri di sampingnya dalam pakaian baru dan minyak wangi mahal, penampung tinja itu tak akan mengomentari dengan bau wangi, tetap saja dia berkomentar dengan bau busuk -mahkota ruhani-
Pos ini dipublikasikan di Berita, DIKNAS, Pendidikan dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s