Sertifikasi Guru Belum Berjalan Optimal


TIDAK MERATA: Seorang guru mengajar di sebua h sekolah di Jakarta. Tidak semua dari 180 ribu guru yang sudah disertifikasi mendapatkan insentif dari pemerintah. Guru yang sudah mendapatkan insentif diperkirakan baru mencapai 100 ribu orang.

PROGRAMsertifikasi guru yang dimulai sejak 2006 lalu masih belum berjalan optimal.Target per tahun yang ditetapkan masih belum juga tercapai.

Program sertifikasi guru didasarkan pada UU No20/2003 tentang Sisdiknas,UU No14/2005 tentang Guru dan Dosen,serta PP No19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Dalam PP itu disebutkan bahwa seorang guru adalah pendidik profesional. Ada beberapa indikator yang dipakai untuk menyebut guru sebagai pendidik profesional.

Pertama,mereka punya kemampuan akademis S-1 atau D-IV, punya kompetensi pedagogik.Namun,tidak semua guru yang telah mengajar itu punya syarat akademis S-1 atau D-IV. Penyebabnya, dulu seseorang tidak harus berpendidikan S-1 atau D-IV untuk menjadi guru. Seseorang bisa jadi guru dengan jenjang pendidikan akademis di bawah S-1 atau D-IV.

Jumlah guru yang di bawah S-1 dan D-IV itu jumlahnya besar. Dari data milik Departemen Pendidikan Nasional (Diknas), disebutkan ada sekitar 2,7 juta guru yang di bawah S1- dan D-IV.Tentu, program sertifikasi itu bermanfaat bagi mereka. Sertifikasi bagi guru di bawah S-1 dan D-IV ditentukan berdasarkan laporan portofolio alias dokumen tertentu (seperti sertifikat pelatihan,seminar) yang dinilai punya pengaruh terhadap peningkatan kualitas mereka sebagai guru.

Sertifikasi ini punya tujuan yang mulia. Secara sederhana, tujuan itu adalah untuk meningkatkan tidak saja kualitas pendidikan,tetapi juga kesejahteraan guru. Dalam UU Guru dan Dosen disebutkan setiap guru yang mendapatkan sertifikat berhak atas insentif per bulan sebesar satu kali gaji pokok terakhir saat mereka disertifikasi. Namun, tampaknya program sertifikasi ini belum berjalan optimal.

Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Diknas Baedhowi mengungkapkan, dari 200.000 target guru yang disertifikasi tiap tahun, pada tahun 2006-2007 baru tercapai 180.000 orang.“Ada beberapa hal yang membuat sertifikasi ini belum berjalan optimal,” kata Baedhowi.

Baedhowi menyebutkan, persoalan yang pertama adalah soal dasar hukum sertifikasi. Setelah UU soal Sisdiknas dan UU Guru dan Dosen disahkan, sertifikasi tidak bisa segera dilakukan karena peraturan pemerintah soal itu tidak segera dibuat. Masalah itu dipecahkan sementara dengan meminta fatwa ke Departemen Hukum dan HAM (DepkumHAM) dan didapatkan bahwa untuk sementara bisa dilakukan melalui Peraturan Menteri Pendidikan (Permendiknas).

Maka keluarlah Permendiknas No18/2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan dan Permendiknas No40/2007 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan melalui Jalur Pendidikan. Permintaan fatwa itu butuh waktu sehingga memakan waktu untuk pelaksanaan sertifikasi. Meski demikian,Baedhowi berharap pemerintah segera membuat PP soal sertifikasi guru.

“Biar dasar hukumnya lebih kuat,” jelasnya. Selain dasarhukum,Baedhowimenyebut optimalisasi itu belum tercapai karena sistem sertifikasi belum terbangun dengan baik. Sistem ini, dia menilai, masih dalamtransisi.“Kami ini membangun system baru. Harusmelakukan koordinasi antara pusat, provinsi,dan kabupaten.Itu kan tidak mudah.Ada banyak guru dan data yang harus diselesaikan,” sebutnya.

Baedhowi menambahkan, dari 180.000 guru yang disertifikasi, belum semuanya mendapatkan insentif.Yang telah mendapatkan insentif baru sekitar 100.000 guru.Dia menjelaskan, meski sudah ada yang mendapatkan sertifikat,tetapi ada beberapa yang ternyata dokumennya salah atau masih belum lengkap.

“Kami lagi mengurai siapasiapa yang belum lengkap atau salah dalam mengisi dokumen atau formulir. Ada guru yang tidak cermat dalam mengisi formulirnya,”katanya. Dalam tahun-tahun depan, untuk urusan sertifikasi ini, Diknas akan mengoptimalkan sistem komputerisasi.Dengan sistem ini, diharapkan proses sertifikasi akan lebih berjalan dengan cepat dan optimal.

Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistiyo menilai bahwa sertifikasi guru belum berjalan optimal. PGRI,Sulistiyo menyebutkan, menerima cukup banyak laporan adanya penyimpangan pelaksanaan di lapangan. “Secara konsep bagus, tetapi pelaksanaan di lapangan itu perlu ditingkatkan,” katanya. Beberapa penyimpangan yang dilakukan adalah permintaan kutipan dari oknum Diknas bagi yang sudah dinyatakan lulus sertifikasi agar insentif bisa segera turun.

Perlunya peningkatan itu, Sulistiyo menilai,makin mendesak melihat masih banyaknya guru yang sudah menyerahkan data dan portofolio,tapi sampai saat ini belum juga diproses oleh Diknas.(helmi firdaus)

Dalam: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/pendidikan/sertifikasi-guru-belum-berjalan-optimal-2.html Sabtu 02 August 2008

Tentang Lukman

orang yang benci, dan dengki padamu akan menuduhmu melakukan kesalahan, bukan kamu melakukan kesalahan, tapi kedengkian orang itu yang menjadikan apa saja salah di matanya. sebab keburukan hatinya itu melahirkan keburukan. sepiteng/ penampung tinja itu selalu mengeluarkan bau busuk, sekalipun kamu berdiri di sampingnya dalam pakaian baru dan minyak wangi mahal, penampung tinja itu tak akan mengomentari dengan bau wangi, tetap saja dia berkomentar dengan bau busuk -mahkota ruhani-
Pos ini dipublikasikan di Berita, DIKNAS dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s